Blog

MASA PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH 31 Mei

MASA PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH

Jika dilihat dari sisi waktu penunaian zakat, terdapat perbedaan
antara zakat maal dan zakat fitrah. Dalam zakat maal dikenal istilah
haul. Secara bahasa, haul berarti satu tahun. Maksudnya zakat itu
ditunaikan setahun sekali sejak kuantitasnya telah mencapai nisab.
Dalam hal ini para ulama sepakat bahwa haul merupakan salah
satu syarat diwajibkannya mengeluarkan zakat yang telah mencapai
nisabnya untuk jenis zakat binatang ternak, emas, perak, dan barang
dagangan. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

[Dari Aisyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tidak
ada zakat harta hingga mencapai haul. (HR. Ibnu Majah)].
Sedangkan untuk jenis zakat pertanian maka tidak disyaratkan
adanya haul namun zakat jenis ini dikeluarkan sejak waktul hashad atau
masa panen, berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Al-An’am (6)
ayat 141.

[Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama
(rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia
berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan].
Begitu pula jenis zakat barang tambang yang dikeluarkan dari
perut bumi menurut pendapat sebagian ulama. Adapun dalam zakat
fitrah tidak dikenal istilah haul dan waktul hashad. Sesuai dengan
namanya, zakat fitrah dikeluarkan pada hari raya idul fitri, yaitu hari
lebaran pada tanggal 1 Syawal. Hal ini berdasarkan hadis:

[Rasulullah shallallahu a‘laihi wassalam mewajibkan zakat fitri dan bersabda,
‘Cukupkan mereka (fakir miskin) pada hari itu’. (HR. Daruqutni dan
Baihaqi)]
Para fukaha telah sepakat bahwa zakat fitrah itu wajib pada akhir
ramadhan, hanya mereka berbeda pendapat mengenai batas waktu
wajib itu. Untuk batas awal, sebagian ulama seperti mazhab Maliki
dan Hanbali memperbolehkan zakat fitrah ini dibayarkan sebelum
waktunya, yaitu dua hari sebelum jatuh tempo pada tanggal 1 Syawal.
Sedangkan sebagian dari ulama mazhab Hanafi
memperbolehkan zakat fitrah dikeluarkan sejak awal bulan ramadhan.
Namun, adapun pendapat al-Hasan bin Ziyad, salah satu ulama dari
mazhab Hanafi memfatwakan bolehnya zakat fitrah dibayarkan
setahun atau dua tahun sebelum ramadhan.
Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dimajukan sampai
sebelum bulan puasa. Imam Syafi’i pun memperbolehkan
memajukannya hingga awal bulan. Sedangkan Imam Malik dan Imam
Ahmad berpendapat boleh dimajukan sekadar satu atau dua hari.
Para Imam sependapat bahwa zakat fitrah itu tidaklah gugur
dengan mengundurkannya dari waktu wajib, tetapi menjadi utang
yang menjadi tanggung jawabnya sampai lunas dibayar walau hingga
akhir usia. Mereka sepakat pula, bahwa tidak boleh
menangguhkannya lewat dari hari lebaran.
Mengenai batas akhir, jumhur ulama diantaranya mazhab Maliki,
Syafi’i, dan Hanbali menyebutkan bahwa batas akhir untuk
menyerahkan zakat fitrah adalah sebelum selesainya pelaksanaan
shalat idul fitri. Sehingga menangguhkan waktu pembayaran zakat adalah dosa, seperti halnya shalat bila dilakukan diluar waktunya.
Adapun hadis Nabi SAW:

[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk
menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan
juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya
sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang
menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di
antara berbagai sedekah.]

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *