Blog

UKURAN ZAKAT FITRAH 30 Mei

UKURAN ZAKAT FITRAH

Sebagai sebuah ibadah yang berbentuk barang yang dibayarkan,
maka penunaian zakat fitrah telah ditentukan pula oleh syariah.
Dalam hadis disebutkan bahwa jenis zakat yang ditunaikan berbentuk
makanan. Nabi menyebutkan beberapa jenis makanan yang menjadi
ketentuan zakat fitrah.

[Dari Ibnu Umar r.a., bahwasannya Rasulullah saw. mewajibkan zakat
fitri dari bulan Ramadhan atas manusia satu sha’ dari kurma atau satu
sha’ dari gandum bagi setiap umat muslim yang merdeka atau hamba
sahaya, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Al-Bukhari)]
Hadis lain Nabi Muhammad SAW bersabda:

[Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan
kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Sa’ad
bin Abu Sarhi Al ‘Amiriy bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudriy
radliallahu ‘anhu berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ dari
makanan atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’
dari keju (mentega) atau satu sha’dari kismis (anggur kering)”

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, para ulama sepakat bahwa
jenis makanan yang wajib ditunaikan pada zakat fitrah berdasarkan
teks hadis ada empat jenis, yaitu: tamr (kurma), sya’ir (gandum), dzabib
(kismis), dan aqith (keju).
Sebagaimana para ulama juga sepakat bahwa, jika keempat jenis
makanan tersebut tidak ditemukan dalam suatu wilayah, maka bisa
digantikan dengan makanan pokok wilayah setempat (quut al-balad).
Seperti beras, jagung, singkong (Brasil: cassava), ketela (Afrika:
isu/iyab), kentang, kedelai, talas, sorgum, pisang tanduk, dan
lainnya. Hal ini didasarkan pada hadis sebagai berikut.

[Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin Al Mutsanna, telah
menceritakan kepada Kami Sahl bin Yusuf, ia berkata; Humaid telah
mengabarkan kepada Kami dari Al Hasan, ia berkata; Ibnu
Abbas rahimahullah berkhutbah pada akhir Ramadhan diatas mimbar
Bashrah, lalu berkata: keluarkanlah zakat puasa kalian! Seakan orang-orang
belum mengetahuinya, lalu dia berkata lagi; siapakah disini dari penduduk
madinah, ajarkanlah mereka karena sesungguhnya mereka belum
mengetahui. Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan
zakat ini satu sha’ dari kurma atau gandum atau setengah sha’ dari biji
gandum, bagi setiap orang yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun
wanita, yang besar maupun yang kecil. Ketika Ali Bin Abi Thalib radliallahu
‘anhu datang ia melihat murahnya harga, ia berkata; Allah telah melapangkan
rizki kalian kalau seandainya kalian menjadikan satu sha’ pada segala sesuatu.
Humaid berkata; Al Hasan berpendapat bahwa zakat Ramadhan (fitrah)
adalah kewajiban orang yang berpuasa].

Maka berdasarkan hal ini, para ulama juga sepakat bahwa zakat
fitrah tidak boleh selain makanan pokok seperti kerupuk, kuaci,
permen, atau jenis jajanan atau kudapan yang tidak mengenyangkan
perut.
Para ulama umumnya juga sepakat bahwa meski zakat itu
merupakan makanan, tetapi yang diberikan bukan makanan yang
sudah matang dan siap disantap. Tetapi bentuknya adalah bahan
mentah yang belum dimasak.
Salah satu alasannya adalah bahwa makanan yang sudah matang
dan siap santap tidak bertahan lama dan tidak bisa disimpan.
Setidaknya untuk ukuran teknologi di masa lalu yang belum mengenal
sistem pengawet makanan.
Adapun kadar zakat fitrah yang wajib dikeluarkan berdasarkan
keterangan hadis adalah sebesar satu sha’ makanan pokok. Boleh
mengeluarkan setengah zakat fitrah jika hanya mampu mengeluarkan
setengah sha’.

Abu Hanifah membolehkan zakat dengan memberikan uang
seharga zakat yang dikeluarkan. Ia juga berpendapat bila yang
diberikan orang yang berzakat itu berupa gandum, maka cukup
setengah sha’.

Abu Sa’id al-Khudri berkata ketika Rasulullah SAW masih
berada di tengah kami, kami mengeluarkan zakat fitrah itu untuk
setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka, ataupun budak adalah satu
sha’ makanan, satu sha’ keju, satu sha’ beras Belanda, satu sha’ kurma,
atau satu sha’ anggur. Maka selalulah kami keluarkan sebanyak itu
hingga datanglah Mu’awiyah melakukan ibadah haji atau umrah. Maka
ia memberikan amanat kepada orang banyak dari atas mimbar,
diantaranya bahwa menurut apa yang disaksikannya, dua mud dari
gandum Syam itu sama banyak dengan setengah sha’ dari kurma.
Orang-orang pun memegang ucapannya itu.
Sebagian ahli menyatakan bahwa dari segala sesuatu, zakatnya
ialah satu sha’, kecuali gandum maka cukup setengah sha’. Ini
merupakan petuah dari Sufyan, Ibnul Mubarak dan penduduk
Kufah.
Zakat fitrah adalah zakat diri setiap muslim yang dibayarkan
setahun sekali sebelum hari raya idul fitri atau di hari-hari terakhir
bulan Ramadhan berupa makanan yang mengenyangkan sebanyak
satu sha’ kepada mereka yang berhak menerimanya. Ukuran satu sha’
merupakan pendapat mayoritas ulama, dengan ukuran yang berbeda.
Para ulama menyatakan bahwa satu sha’ adalah 1/6 liter Mesir atau
1/3 wadah Mesir yang seukuran dengan 2.167gram timbangan gandum dengan konversi 3,1 Liter, 2,5 Kg, 3 Kg bahkan ada yang
berpendapat 3,5 Kg.
Satu sha’ menurut ijma’ setara dengan 4 (empat) mud beras, yaitu
kurang lebih 0,6 kilogram, kemudian dibulatkan menjadi 2,5 kg.
Takaran ini berlaku untuk jenis biji-bijian yang bersih dari campuran
atau ulat atau berubah bau, rasa, dan warnanya.
Adapun maksud dari cara pengukuran mud adalah dengan
seukuran dua telapak tangan yang disatukan, lalu di dalamnya diisi
dengan makanan. Maka ukuran yang harus dikeluarkan untuk
membayar zakat fitri yaitu satu sha’ adalah empat kali mud.
Imam An-Nawawi di dalam penjelasannya tentang ukuran sha’
mengatakan dalam kitabnya al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab bahwa satu
sha’ itu setara dengan empat kali hafanat (dua telapak tangan) seorang
laki-laki yang berukuran sedang.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa para ulama tidak satu
pendapat ketika mengkonversikan takaran zakat fitri saat
dikonversikan dari ukuran sha’ (volume) kepada ukuran berat. Hal ini
terjadi karena beberapa hal. Pertama, ukuran berat satu sha’ dari empat
jenis makanan yang ditunaikan zakatnya pada masa Rasulullah SAW
berbeda-beda. Dimana berat satu sha’ kurma tentu berbeda dengan
berat satu sha’ gandum. Demikian pula untuk satu sha’ kismis dan keju.
Kedua, ukuran timbang berat setiap tradisi masyarakat berbeda-beda.
Ada yang menggunakan takaran berat, dirham, kilogram, liter, dan
lainnya.
Berdasarkan sebab-sebab inilah para ulama berbeda pendapat
dalam menetapkan ukuran pasti zakat fitri yang hendak ditunaikan.

Setidaknya, ada beberapa versi ukuran berat kilogram atau liter yang
berlaku saat ini.
Pada umumnya di Indonesia, berat satu sha’ dibakukan menjadi
2,5 kg. Pembakuan 2,5 kg ini barangkali untuk mencari angka tengahtengah antara pendapat yang menyatakan 1 sha’ adalah 2,75 kg,
dengan 1 sha’ sama dengan di bawah 2,5 kg.
Selain itu dalam bahasa Melayu, sha’ sama dengan gantang.
Namun ukuran gantang saat ini tidak lagi berlaku. Jika diperkirakan,
ukuran segantang kira-kira sekitar 2,8 kg.
Selain dua ukuran sebelumnya, Dewan Fatwa Kerajaan Saudi
Arabia juga pernah mengeluarkan fatwa bahwa satu sha’ adalah 3,5 kg
beras. Sebagaimana MUI jatim pernah pula menghimbau masyarakat
untuk menakarnya sebesar 3 kg beras. Himbauan MUI Jatim boleh
jadi merupakan jalan terbaik untuk kehati-hatian dan keluar dari
perbedaan hitung.126 Syaikh Wahbah al-Zuhaili memilih pendapat
bahwa satu sha’ itu 2,75 liter.
Jenis benda yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah makanan
pokok. Untuk Indonesia adalah beras pada umumnya, ada juga orang
yang berzakat dengan menggunakan uang sebagai gantinya senilai
beras pada waktu itu. Menurut Imam Malik dalam penjelasannya
mengenai ukuran zakat fitrah terdapat beberapa penjelasan,

Dari Ibnu Umar r.a., bahwasannya Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitri
dari bulan Ramadhan atas manusia satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari
gandum bagi setiap umat muslim yang merdeka atau hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Al-Bukhari)]
Imam Malik mengatakan, “Semua kafarat, zakat fitrah, zakat bijibijian diukur dengan mud kecil, yakni mud Nabi Muhammad SAW,
kecuali kafarat zhihar diukur dengan mud Hisyam, yaitu ukuran mud
besar.128
Berdasarkan dari penjelasan Imam Malik diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwasanya dalam penyerahan benda zakat harus berupa
bahan makanan pokok, tidak menggunakan uang sebagai alat bayar
zakat.
Menurut jumhur ulama, zakat fitrah itu harus dibayarkan dengan
makanan pokok setempat dan tidak sah dibayar dengan uang. Kadar
wajib yang dibayarkan itu menurut mereka sebanyak satu sha’.

Adapun kalangan Hanafiyyah menyendiri dari mazhab jumhur
dimana mereka membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang
senilai bahan makanan pokok yang wajib dibayarkan. Pendapat ini
juga didukung oleh Abu Tsaur, Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Abu Ishak, dan Atha’ bin Abi Rabbah.
Seorang ulama kontemporer, Syaikh Mahmud Syaltut di dalam
kitab fatawanya menyatakan: yang saya anggap baik dan saya
laksanakan adalah bila saya berada di desa, saya keluarkan bahan
makanan seperti kurma, kismis, gandum, dan sebagainya. Tapi jika
saya di kota, maka saya keluarkan uang (harganya).

Syaikh Yusuf al-Qaradawi mengasumsikan kenapa dahulu
Rasulullah SAW membayar zakat dengan makanan, yaitu karena dua
hal.
1) Pertama adalah karena uang di masa itu agak kurang banyak
beredar bila dibandingkan dengan makanan. Maka
membayar zakat langsung dalam bentuk makanan justru
merupakan kemudahan. Sebaliknya, di masa itu membayar
zakat dengan uang malah merepotkan. Pihak muzakki malah
direpotkan karena yang dia miliki justru makanan, kalau
makanan itu harus diuangkan terlebih dahulu, berarti dia
harus menjualnya di pasar. Pihak mustahiq pun juga akan
direpotkan kalau dibayar dengan uang karena uang itu tidak
bisa langsung dimakan.
2) Kedua adalah karena nilai uang di masa Rasulullah SAW
tidak stabil, selalu berubah tiap pergantian zaman. Hal itu
berbeda bila dibandingkan dengan nilai makanan yang jauh
lebih stabil meski zaman terus berganti
ِ

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *