Blog

ZAKAT RIKAZ DAN BARANG TAMBANG 27 Mei

ZAKAT RIKAZ DAN BARANG TAMBANG

Rikaz diambil dari kata rakaza-yarkazu yang berarti tersembunyi.
Rikaz adalah harta terpendam di dalam tanah oleh tindakan manusia,
seperti emas, perak, dan semacamnya.32
Adapun ma’din diambil dari kata ya’danu-‘ad-nan yang berarti
menetap pada suatu tempat. Sedangkan secara syar’i yang dimaksud
dengan ma’din atau barang tambang di sini bisa jadi berupa padatan
seperti emas, perak, besi, tembaga, timbal, atau berupa zat cair seperti
minyak bumi, dan aspal. Para ulama berselisih pendapat mengenai
ma’din atau barang tambang yang wajib dikelaurkan zakatnya. Mazhab
Ahmad menyatakan bahwa ia adalah segala hasil bumi yang berharga
dan tercipta di dalamnya dari barang lainnya, seperti emas, perak, besi,
tembaga, timah, permata, yakut, zabarjad, zamrud, piruz, intan,
berlian, ‘aqik, batubara, granit, aspal, minyak bumi, belerang, garam
tambang, dan lain-lain. Sebagai syaratnya. Hendaklah hasilnya cukup
satu nisab, baik dengan dirinya sendiri atau menurut harganya.
Menurut Abu Hanifah, zakat itu hanya wajib pada
semua barang yang lebur dan dapat dicetak dengan api,
seperti halnya emas, perak, besi, dan tembaga. Adapun yang
tidak cair seperti mata yakut, maka itu tidaklah wajib zakat.
Sedangkan Malik dan Syafi’i membatasi wajib zakat itu hanya
pada emas dan perak saja. Para ulama telah sepakat bahwa

rikaz atau harta terpendam dan barang tambang wajib
dikeluarkan zakatnya, berdasarkan keumuman firman Allah
dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 267

[Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari
hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan
dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu
kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan
ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji].

Juga berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

[Barang tambang (ma’dan) adalah harta yang terbuang-buang dan harta
karun (rikaz) dizakati sebesar 1/5 (20%)].34
Pada rikaz dan barang tambang tidak dipersyaratkan adanya
nisab. Ini pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan juga Malik menurut
salah satu berita yang terkuat. Sedang menurut Syafi’i dalam
pendapatnya yang baru, diperhitungkan nisabnya. Mengenai haul,
semuanya sepakat tidak dipersyaratkan.35 Ketika seseorang memiliki
harta rikaz ataupun barang tambang, wajib ia zakat secara langsung
ketika harta tersebut ditemukan. Besar zakatnya adalah 20% atau
1/5. Demikian makna tekstual dari hadis di atas.

Tempat ditemukannya rikaz atau harta terpendam itu
bermacam-macam, diantaranya:36
a) Pada tanah mati atau tanah yang tidak dikenal pemiliknya,
walau di atas permukaannya. Atau pada jalan yang tidak
biasa dilalui, atau kampung yang mengalami keruntuhan.
Maka orang yang mendapatkan rikaz tersebut wajib
mengeluarkan zakat seperlima, dan empat perlima untuk
yang menemukannya. Sebagaimana hadis,

[Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata –tentang harta terpendam
yang ditemukan seseorang di puing-puing Jahiliyah- , “Jika ia
menemukannya di kampung yang berpenghuni atau di jalan yang
dilalui orang, maka ia harus mengumumkannya. Jika ia
menemukannya di puing-puing Jahiliyah atau di kampung yang
tidak berpenghuni, maka itu menjadi miliknya dan zakatnya adalah
seperlima].

b) Ditemukan seseorang pada tanah tempat ia pindah. Maka
temuan itu menjadi miliknya, karena rikaz itu terpendam
dalam tanah, maka tidak berarti jadi milik si pemilik tanah,
tapi baru dimiliki dengan menemukannya. Keadaannya tidak
ada bedanya dengan barang-barang mubah lainnya seperti
rumput, kayu bakar, dan binatang buruan yang dijumpai di
tanah kepunyaan orang lain. Jadi ia lebih berhak, kecuali jika

pemilik yang menyerahkan tanah itu mengakui barang itu
sebagai miliknya.
Dalam hal ini, keterangan yang diterima ialah keterangannya,
karena ia yang menguasai tanah itu pada mulanya. Jika tidak
diakuinya sebagai miliknya, maka menjadi milik si
penemunya. Ini merupakan pendapat Abu Yusuf dan
pendapat yang terkuat menurut golongan Hanbali.
Sedangkan menurut Syafi’i, ia menjadi hak si pemilik
sebelumnya jika diakuinya, dan jika tidak, maka hak orang
yang sebelumnya seperti demikian sampai kepada pemilik
pertama.
Adapun menurut Abu Hanifah dan Muhammad, ia adalah
hak pemilik tanah yang mula-mula atau ahli warisnya jika
dikenal. Jika tidak maka dimasukkan ke dalam baitul mal.
c) Ditemukan seseorang pada tempat yang menjadi milik
seorang Muslim atau Dzimmi. Maka ia adalah hak si pemilik
tersebut. Demikian pendapat Abu Hanifah dan Muhammad,
juga pendapat Ahmad menurut suatu berita. Pendapat
Ahmad menurut berita lain, bahwa ia jadi milik si penemu.
Ini juga merupakan pendapat Hasan bin Saleh, Abu Tsaur,
dan dianggap lebih baik oleh Abu Yusuf dengan alasan
bahwa rikaz itu tidaklah dimiliki dengan semata memiliki
tanah, kecuali bila si pemilik tanah itu mengakuinya sebagai
hak miliknya, maka pengakuannya itu didengar, karena
sebagai akibat dari memiliki tanah, temuan itu di bawah
kekuasannya. Jika tidak diakuinya, maka menjadi milik si
penemu. Menurut Syafi’i, ia jadi hak si pemilik jika diakuinya,
jika tidak maka jadi hak si pemilik pertama.
Jumhur ulama berpendapat bahwa zakat rikaz itu wajib atas
orang yang menemukannya, baik ia Muslim atau Dzimmi, besar atau
kecil, berakal atau gila. Hanya saja bagi anak kecil dan orang gila, yang berkewajiban menguruskan pengeluarannya adalah walinya. Pendapat
yang mengatakan bahwa orang dzimmi yang menemukan rikaz wajib
mengeluarkan zakat disampaikan oleh Malik, penduduk Madinah,
Tsauri, Auza’i. Penduduk Irak, dan tokoh-tokoh terkenal lainnya.
Sedangkan menurut Syafi’i, tidak wajib zakat pada rikaz, kecuali atas
orang yang diwajibkan berzakat.
Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan tempat
penyaluran seperlima zakat rikaz atau harta terpendam. Pendapat
Pertama: Tempat penyaluran seperlima tersebut sama dengan tempat
penyaluran zakat untuk delapan golongan. Ini adalah pendapat imam
asy-Syafi’i dan imam Ahmad. Akan tetapi imam Ahmad mengatakan,
jika ia menyedekahkannya kepada orang miskin, maka itu sudah
cukup baginya. Mereka melandasi pendapatnya ini dengan dua hujjah
(argumen), yaitu:
1) Apa yang diriwayatkan dari Abdullâh bin Bisyr al-Khats’ami
rahimahullah , dari seseorang dari kaumnya yang biasa
dipanggil Hajmah. Ia berkata, “Sekantung uang kuno jatuh
menimpaku di Kufah dekat pekuburan Bisyr. Di dalamnya
berisi empat ribu Dirham. Aku membawanya kepada Ali bin
Abu Thâlib Radhiyallahu anhu, maka dia berkata,
“Bagikanlah lima bagian!” aku membagikannya. Ali
Radhiyallahu anhu mengambil seperlima darinya dan
memberikan kepadaku empat perlimanya. Saat aku ingin
pergi, dia memanggilku seraya berkata, “Apakah ada
tetanggamu yang fakir dan miskin ?” Aku jawab, “Ya.” Dia
berkata, “Ambillah ini, dan bagikan kepada mereka.”
2) Karena diperoleh dari bumi, maka disamakan dengan
tanaman.
Tempat penyalurannya adalah tempat penyaluran harta fai’
(harta rampasan yang diperoleh dari orang kafir tanpa
peperangan). Ini adalah pendapat imam Abu Hanîfah, imam
Mâlik, dan sebuah riwayat dari imam Ahmad yang dishahihkan oleh Ibnu Qudamah. Mereka melandasi
pendapatnya ini dengan dua hujjah (argumen), yaitu:
i. Apa yang diriwayatkan dari asy-Sya’bi, bahwa ada
seorang lelaki menemukan seribu Dinar yang terkubur di
luar Madinah. Ia membawanya ke hadapan Umar bin AlKhaththab Radhiyallahu anhu, lalu Umar Radhiyallahu anhu
mengambil seperlima darinya, yaitu dua ratus Dinar, dan
memberikan sisanya kepada orang tersebut. Mulailah
Umar Radhiyallahu anhu membagikan dua ratus dinar
tersebut kepada kaum Muslimin yang hadir hingga
tersisa beberapa dinar, maka dia berkata, “Dimanakah
pemilik dinar tadi ?” Ia bangkit dan berjalan kearahnya,
lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Ambillah dinar
ini, karena ini milikmu.”
Mereka mengatakan, jikalau itu zakat, pastilah
dikhususkan kepada pihak-pihak yang berhak
menerimanya, dan tidak dikembalikan lagi kepada orang
yang menemukannya.
ii. Karena ini wajib atas kafir dzimmi, sementara zakat tidak
wajib atasnya. Karena harta itu termasuk harta makhmus
(yang harus dikeluarkan seperlimanya) yang telah
terlepas kepemilikannya dari tangan orang kafir (dengan
anggapan harta itu termasuk harta terpendam milik kaum
jahiliyah), maka disamakan seperti pembagian seperlima
harta ghanimah.
Syaikh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim berkata,
“Dua dalil di atas tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.
Oleh karena itu syaikh al-Albâni rahimahullah berkata,
“Tidak ada dalam al-hadis yang menguatkan penjelasan
salah satu dari kedua belah pihak atas pihak yang lainnya.
Oleh karena itu, aku memilih dalam ahkam (hukumhukum) harta terpendam, tempat penyalurannya dikembalikan kepada keputusan (kebijakan) pemimpin
kaum Muslimin. Ia menyalurkannya ke mana saja yang
ada kemaslahatan bagi Negara. Inilah pendapat yang
dipilih Abu Ubaid dalam kitab al-Amwal.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *