Blog

ZAKAT TERNAK 28 Mei

ZAKAT TERNAK

Dalam dunia binatang, yang dapat diternak sangatlah banyak.
Namun, yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan istilah an’am
(hewan ternak) hanyalah yang memiliki manfaat lebih banyak. Allah
berfirman dalam QS. An-Nahl (16) ayat 5-7.

[Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu)
yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu
makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu
membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke
tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri
yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukarankesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang],
Binatang ternak merupakan harta yang sangat berharga dan
mengandung manfaat, maka dari itu Allah memerintahkan manusia
untuk bersyukur dan mengeluarkan zakat yang telah ditentukan oleh
syariat.

Hewan ternak yang wajib dizakati adalah unta, sapi, dan
kambing. Islam mewajibkan zakat hewan ternak berdasarkan nash dan
ijma’ ulama. Adapun Nabi SAW bersabda:
[Tidaklah pemilik unta, sapi, atau kambing tidak menunaikan zakatnya,
melainkan (hewan-hewan ternak tersebut) datang pada hari kiamat dengan
bentuk yang sangat besar dan sangat gemuk. Mereka menanduknya dengan
tanduk-tanduk mereka, menginjaknya dengan kuku-kuku mereka. Setiap kali
yang terakhir habis, yang pertama kembali lagi kepadanya (untuk
menyiksanya), hingga urusan seluruh manusia diputuskan].39
Adapun syarat wajib zakat pada hewan ternak adalah sebagai
berikut.
a) Jenis hewan yang telah ditetapkan oleh syara’, yakni hewan
ternak berupa unta, sapi, dan kambing. Kuda dan hasil
peranakan kambing dengan rusa tidak dikenai zakat,
walaupun yang induk betinanya adalah kambing.40
b) Mencapai nisab. Nisab adalah batas minimal jumlah harta
yang dikenai kewajiban zakat secara syara’.
c) Kepemilikan harta telah memasuki masa satu tahun. Sebab,
harta yang dimiliki biasanya tidak berkembang secara
sempurna sebelum haul.

[Tidak ada zakat dalam harta seseorang sampai datang waktu
setahun padanya]

d) Kepemilikan hewan ternak bersifat tetap selama setahun.
Jika kepemilikan itu belum berlangsung satu tahun, dia
belum berkewajiban untuk mengeluarkan zakatnya.

e) Sa’imah (dilepas untuk mencari makanan sendiri).
Berdasarkan hadis,

[Pada zakat domba/kambing yang bersifat sa’imah, jika
jumlahnya 40 hingga 120 ekor, zakatnya satu ekor syah
(kambing/domba). Jika jumlahnya lebih dari 120 hingga 200 ekor,
zakatnya dua ekor syah. Apabila jumlahnya lebih dari 200 hingga
300 ekor, zakatnya tiga ekor syah. Jika jumlahnya lebih dari 300
ekor, pada setiap seratus ekor zakatnya satu ekor syah. Jika jumlah
sa’imah seseorang kurang satu ekor saja dari empat puluh, tidak
ada zakatnya, kecuali jika pemiliknya menghendaki (untuk
bersedekah)]

Unta sa’imah adalah unta yang memakan tanaman dan
rerumputan mubah yang ditumbuhkan Allah, bukan
ditanam siapapun. Namun jika sumber makanan hewan
ternak ditanam pemiliknya, hewan ternak seperti ini tidak
tergolong sa’imah dan tidak wajib dizakati
f) Dipersiapkan untuk dimanfaatkan susu dan anak-anaknya,
bukan dipergunakan untuk bekerja. Unta pekerja adalah
unta yang digunakan pemiliknya untuk berladang,
menyiram tanah, memindahkan barang, atau mengangkut
beban.
Unta pekerja tidak wajib dizakati, karena termasuk dalam
kebutuhan utama seseorang, seperti halnya pakaian.
Sementara unta pekerja dipersiapkan untuk disewakan,

1. Nisab Zakat Unta
Tidak wajib zakat pada unta jika kurang dari 5 ekor. Maka apabila
sampai 5 ekor, digembalakan dan cukup masanya setahun,
zakatnya ialah berupa seekor kambing betina. Jika banyaknya 10
ekor, zakatnya 2 ekor kambing betina. Demikianlah seterusnya,
setiap bertambah lima ekor, bertambah pula zakatnya 1 ekor
kambing betina.

2. Nisab Zakat Sapi
Untuk ketentuan ternak sapi dijelaskan dalam hadits
Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

[Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk
mengambil dari setiap 30 ekor sapi ada zakat dengan kadar 1 ekor
tabi’ (sapi jantan umur satu tahun) atau tabi’ah (sapi betina umur
satu tahun) dan setiap 40 ekor sapi ada zakat dengan kadar 1 ekor
musinnah (sapi berumur dua tahun)]

Berikut tabel nisab dan zakat sapi.

3. Nisab Zakat Kambing
Tidak wajib zakat pada kambing hingga banyakya sampai 40 ekor.
Maka jika jumlahnya 40-120 ekor dan cukup digembalakan dalam
masa 1 tahun, zakatnya ialah seekor kambing betina.
Dari 121-200 ekor, zakatnya ialah 2 ekor kambing betina, dan dari
200-300 ekor, ialah 3 ekor kambing betina. Selanjutnya jika lebih dari 300 ekor, maka setiap 100 ekor, dikeluarkan 1 ekor kambing
betina. Dari domba dikeluarkan yang berumur 1 tahun, sedang
dari kambing yang berumur 2 tahun.
Demikianlah, dan menurut kesepakatan ulama dibolehkan
mengeluarkan hewan jantan sebagai zakat, jika ternak itu
semuanya terdiri dari yang jantan. Jika semuanya betina, atau
sebagiannya jantan dan sebagian lagi betina, maka menurut Ahnaf
boleh mengeluarkan yang jantan, tetapi menurut yang lain hanya
boleh yang betina. Adapun yang diwajibkan dalam zakat adalah harta kualitas
sedang. Bukan yang terbaik dan bukan yang terburuk. Tidak boleh
mengambil barang-barang terpilih dan bernilai tinggi, kecuali jika
diizinkan oleh yang bersangkutan. Demikian pula sebaliknya, harus
pula dijaga hak hak orang fakir. Petugas pemungut zakat harus
memperhatikan usia wajib. Karena ketika kurang dari batas usia yang
diwajibkan, zakat tidak sah karena merugikan orang-orang fakir. Juga
tidak boleh yang melebihi usia wajib pada hewan zakat karena
merugikan orang-orang kaya. Tidak boleh memilih hewan yang cacat,
sakit, ataupun tua renta karena hewan-hewan seperti ini tidak bisa
dimanfaatkan orang fakir. Sebaliknya, jangan memungut hewan
gemuk yang dipersiapkan untuk konsumsi. Jangan memungut hewan yang merawat anak-anaknya. Juga jangan memungut hewan yang
hamil.
Pada zakat hewan ternak dikenal istilah waqash yaitu
kelebihan dari nisab yang belum mencapai nisab berikutnya. Jumlah
antara dua nisab ini tidak terkena zakat. Contoh waqash pada sapi
antara 30 ekor dengan 40 ekor adalah 9 ekor. Jumlah 9 ekor tersebut
tidak ada zakatnya. Waqash ini hanya ada pada zakat hewan ternak dan
tidak ada pada zakat harta lainnya.46
Mengenai percampuran atau berserikat dalam kepemilikan
hewan ternak terbagi atas dua macam.47 Pertama, campuran barang
yaitu harta bersama milik dua orang yang dibagi rata di antara
keduanya dimana bagian masing-masing tidak bisa dibedakan satu
sama lain. Ini namanya percampuran barang melalui warisan dan
didapatkan dengan cara dibeli. Kedua, Campuran sifat. Yaitu bagian
masing-masing di antara ke-dua pemilik bisa dibedakan dan diketahui.
Keduanya hanya disatukan karena berdekatan saja.
Dengan kedua macamnya ini, kedua harta yang bercampur
menjadi seperti satu harta jika total keduanya mencapai nishab, dan
kedua sekutu termasuk wajib zakat. Andaikan salah satu kafir,
campuran harta ini tidak sah dan tidak berpengaruh.
Dua harta yang bercampur bersekutu dalam tempat
bernaung. Keduanya bersekutu dalam tempat gembala sehingga
mengembala sama-sama, pulang juga sama-sama. Bersekutu dalam
tempat pemerahan, tempat gembala, dan pejantan yang sama,
sehingga satu hewan pejantan membuntingi seluruh hewan-hewan
betina tersebut. Ketika syarat-syarat ini terpenuhi, dua harta menjadi satu harta karena
pengaruh percampuran maka dapat dipungut zakatnya. Dengan
demikian, percampuran mempengaruhi wajib dan gugurnya zakat.
Percampuran ini hanya berlaku dalam hewan-hewan ternak saja

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *